Batubara
merupakan hasil dari akumulasi tumbuh-tumbuhan pada kondisi
lingkungan pengendapan tertentu. Akumulasi tersebut telah dikenai
pengaruh-pengaruh synsedimentary dan post-sedimentary. Akibat
pengaruh-pengaruh tersebut dihasilkanlah batubara dengan tingkat
(rank) dan kerumitan struktur yang bervariasi.
Batubara
adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan
organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui
proses pembatubaraan. Potensi batubara Indonesia masih memungkinkan
untuk lebih ditingkatkan lagi dengan memberikan prioritas yang lebih
besar pada pengembangan dan pemanfaatannya untuk meningkatkan peranan
batubara.
Di
Indonesia, endapan batubara yang bernilai ekonomis terdapat di
cekungan Tersier, yang terletak di bagian barat Paparan Sunda
(termasuk Pulau Sumatera dan Kalimantan), pada umumnya endapan
batubara ekonomis tersebut dapat dikelompokkan sebagai batubara
berumur Eosen atau sekitar Tersier Bawah, kira-kira 45 juta tahun
yang lalu dan Miosen atau sekitar Tersier Atas, kira-kira 20 juta
tahun yang lalu menurut Skala waktu geologi.
Di
Indonesia produksi batubara pada tahun 1995 mencapai sebesar 44 juta
ton. Sekitar 33 juta ton dieksport dan sisanya sebesar 11 juta ton
untuk konsumsi dalam negeri. Dari jumlah 11 juta ton tersebut 60 %
atau sekitar 6.5 juta ton digunakan untuk pembangkit listrik, 30 %
untuk industri semen dan sisanya digunakan untuk rumah tangga dan
industri kecil.
Materi
Pembentuk Batubara
Hampir
seluruh pembentuk batubara berasal dari tumbuhan. Jenis-jenis
tumbuhan pembentuk batubara dan umurnya menurut Diessel (1981) adalah
sebagai berikut:
•Alga,
dari Zaman Pre-kambrium hingga Ordovisium dan bersel tunggal. Hasil
endapan batubara dari periode ini sangat sedikit.
•Silofita,
dari Zaman Silur hingga Devon Tengah, merupakan turunan dari alga.
Sedikit endapan batubara dari periode ini.
•Pteridofita,
umur Devon Atas hingga KArbon Atas. Materi utama pembentuk batubara
berumur Karbon di Eropa dan Amerika Utara. Tumbuh-tumbuhan tanpa
bunga dan biji, berkembang biak dengan spora dan tumbuh di iklim
hangat.
•Gimnospermae,
kurun waktu mulai dari Zaman Permian hingga Kapur Tengah. Tumbuhan
heteroseksual, biji terbungkus dalam buah, semisal pinus, mengandung
kadar getah (resin) tinggi. Jenis Pteridospermae seperti
gangamopteris dan glossopteris adalah penyusun utama batubara Permian
seperti di Australia, India dan Afrika.
•Angiospermae,
dari Zaman Kapur Atas hingga kini. Jenis tumbuhan modern, buah yang
menutupi biji, jantan dan betina dalam satu bunga, kurang bergetah
dibanding gimnospermae sehingga, secara umum, kurang dapat
terawetkan.
Potensi
batubara di Indonsia masih memungkinkan untuk lebih ditingkatkan lagi
dengan memberikan prioritas yang lebih besar pada pengembangan dan
pemanfaatannya untuk meningkatkan peranan batubara menjelang tinggal
landas pada awal Pelita VI. Salah satu dukungan yang disarankan
adalah pemantapan perencanaan dan pelaksanaan produksi secara
terpadu, sehingga kapasitas produksi selalu dapat memenuhi
peningkatan permintaan batubara baik dari dalam negeri maupun luar
negeri.
Batubara
terbentuk dengan cara yang sangat kompleks dan memerlukan waktu yang
lama (puluhan sampai ratusan juta tahun) di bawah pengaruh fisika,
kimia ataupun keadaan geologi. Untuk memahami bagaimana batubara
terbentuk dari tumbuh-tumbuhan perlu diketahui di mana batubara
terbentuk dan factor-faktor yang akan mempengaruhinya, serta bentuk
lapisan batubara.
Pembentukan Batubara
Batubara
terbentuk dari sisa tumbuhan mati dengan komposisi utama dari
cellulose. Proses pembentukan batubara atau coalification yang
dibantu oleh factor fisika, kimia alam akan mengubah cellulosa
menjadi lignit, subbitumine dan antrasite. Gas-gas yang terbentuk
selama proses pembentukan batubara akan masuk ke dalam celah-celah
vein batulempung dan ini sangat berbahaya. Gas metan yang sudah
terakumulasi di dalan celah vein, terlebih-lebih apabila terjadi
kenaikan temperature, karena tidak dapat keluar, sewaktu-waktu dapat
meledak dan terjadi kebakaran. Oleh karena itu, mengatahui bentuk
deposit batubara dapat menentukan cara penambangan yang akan dipilih
dan juga meningkatkan keselamatan kerja.
Tempat
Terbentuknya Batubara
Batubara
adalah mineral organik yang dapat terbakar, terbentuk dari sisa
tumbuhan purba yang mengendap yang selanjutnya berubah bentuk akibat
proses fisika dan kimia yang berlangsung selama jutaan tahun. Oleh
karena itu, batubara termasuk dalam kategori bahan bakar fosil.
Adapun proses yang mengubah tumbuhan menjadi batubara tadi disebut
dengan pembatubaraan (coalification).
Faktor
tumbuhan purba yang jenisnya berbeda-beda sesuai dengan jaman geologi
dan lokasi tempat tumbuh dan berkembangnya, ditambah dengan lokasi
pengendapan (sedimentasi) tumbuhan, pengaruh tekanan batuan dan panas
bumi serta perubahan geologi yang berlangsung kemudian, akan
menyebabkan terbentuknya batubara yang jenisnya bermacam-macam. Oleh
karena itu, karakteristik batubara berbeda-beda sesuai dengan
lapangan batubara (coal field) dan lapisannya (coal seam).
Gambar
1. Proses Terbentuknya Batubara
Pembentukan
batubara dimulai sejak periode pembentukan Karbon (Carboniferous
Period) --dikenal sebagai zaman batu bara pertama-- yang berlangsung
antara 360 juta sampai 290 juta tahun yang lalu. Kualitas dari setiap
endapan batu bara ditentukan oleh suhu dan tekanan serta lama waktu
pembentukan, yang disebut sebagai 'maturitas organik'. Proses
awalnya, endapan tumbuhan berubah menjadi gambut (peat), yang
selanjutnya berubah menjadi batu bara muda (lignite) atau disebut
pula batu bara coklat (brown coal). Batubara muda adalah batu bara
dengan jenis maturitas organik rendah.
Setelah
mendapat pengaruh suhu dan tekanan yang terus menerus selama jutaan
tahun, maka batu bara muda akan mengalami perubahan yang secara
bertahap menambah maturitas organiknya dan mengubah batubara muda
menjadi batu bara sub-bituminus (sub-bituminous). Perubahan kimiawi
dan fisika terus berlangsung hingga batu bara menjadi lebih keras dan
warnanya lebih hitam sehingga membentuk bituminus (bituminous) atau
antrasit (anthracite).
Dalam
kondisi yang tepat, peningkatan maturitas organik yang semakin tinggi
terus berlangsung hingga membentuk antrasit. Dalam proses
pembatubaraan, maturitas organik sebenarnya menggambarkan perubahan
konsentrasi dari setiap unsur utama pembentuk batubara. Berikut ini
ditunjukkan contoh analisis dari masing --masing unsur yang terdapat
dalam setiap tahapan pembatubaraan.
Tabel
1. Contoh Analisis Batubara (daf based)
Dalam
pembentukan batubara, semakin tinggi tingkat pembatubaraan,maka kadar
karbon akan meningkat, sedangkan hidrogen dan oksigen akan berkurang.
Karena tingkat pembatubaraan secara umum dapat diasosiasikan dengan
mutu atau kualitas batubara, maka batubara dengan tingkat
pembatubaraan rendah disebut pula batubara bermutu rendah-- seperti
lignite dan sub-bituminus biasanya lebih lembut dengan materi yang
rapuh dan berwarna suram seperti tanah, memiliki tingkat kelembaban
(moisture) yang tinggi dan kadar karbon yang rendah, sehingga
kandungan energinya juga rendah. Semakin tinggi mutu batubara,
umumnya akan semakin keras dan kompak, serta warnanya akan semakin
hitam mengkilat. Selain itu, kelembabannya pun akan berkurang
sedangkan kadar karbonnya akan meningkat, sehingga kandungan
energinya juga semakin besar.
Untuk
menjelaskan tempat terbentuknya batubara, dikenal dua macam teori
yaitu :
a.
Teori Insitu
Teori
ini mengatakan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan batubara,
terbentuknya ditempat dimana tumbuh-tumbuhan asal itu berada. Dengan
demikian maka setelah tumbuhan tersebut mati, belum mengetahui proses
transportasi segera tertutup oleh lapisan sedimen dan mengalami
proses coalification. Jenis batubara yang terebentuk dengan cara ini
mempunyai penyebaran luas dan merata, kualitasnya lebih baik karena
kadar abunya relative kecil. Batubara yang terbentuk seperti ini di
Indonesia didapatkan di lapangan batubara Muara Enir – Sumatera
Selatan.
b.
Teori Drift
Teori
ini menyebutkan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan batubara
terjadinya ditempat yang berbeda dengan tempat tumbuhan semula hidup
dan berkembang. Dengan demikian tumbuhan yang telah mati di angkut
oleh media air dan berakumulasi disuatu tempat, tertutupoleh batuan
sedimen dan mengalami proses coalification. Jenis batubara yang
terbentuk dengan cara ini mempunyai penyebaran tidak luas, tetapi di
jumapi dibeberapa tempat, kualitas kurang baik karena banyak
mengandung material pengotor yang terangkut bersama selama proses
pengangkutan dari tempat asal tanaman ke tempat sedimentasi. Batubara
yang terbentuk seperti ini di Indonesia didapatkan dilapangan
batubara delta Mahakam Purba – Kalimantan Timur.
Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Batubara
Cara
terbentuknya batubara merupakan proses yang komples, dalam asti harus
dipelajari dari berbagai sudut yang berbeda. Terdapat serangkaian
factor yang diperlukan dalam pembentukan batubara yaitu
a.
Posisi Geotektonik
Adalah
suatu tempat yang keberadaannya dipengaruhi oleh gaya-gaya tektonik
lempeng. Dalam pembentukan cekungan batubara, posisi geotektonik
merupakan factor yang dominan. Posisi ini akan mempengaruhi iklim
local dan morfologi cekungan pengendapan batubara maupun kecepatan
penurunannya. Pada fase terakhir, posisi geotektonik mempengaruhi
proses metamorfosa organic dan struktur dari lapangan batubara
melalui masa sejarah setelah pengendapan akhir.
b.
Topografi (Morfologi)
Morfologi
dari cekungan pada saat pembentukan gambut sangat penting karena
menentukan penyebaran rawa-rawa di mana batubara tersebut terbentuk.
Topografi mungkin mempunyai efek yang terbatas terhadap iklim dan
keadaannya bergantung pada posisi geotektonik.
c.
Iklim
Kelembaban
memegang peranan penting dalam pembentukan batubara dan merupakan
factor pengontrol pertumbuhan flora dan kondisi yang sesuai. Iklim
tergantung pada posisi geografi dan lebih luas lagi dipengaruhi oleh
posisi geotektonik. Temperature yang lembab pada iklim tropis dan sub
tropis pada umumnya sesuai untuk pertumbuhan flora dibandingkan
wilayah yang lebih dingin. Hasil pengkajian menyatakan bahwa hutan
rawa tropis mempunyai siklus pertumbuhan setipa 7 – 9 tahun dengan
ketinggian pohon sekitar 30 meter. Sedangkan pada iklim yang lebih
dingin, ketinggian pohon hanya mencapai 5 – 6 meter dalam selang
waktu yang sama.
d.
Penurunan
Penurunan
cekungan batubara dipengaruhi oleh gaya-gaya tekonik. Jika penurunan
dan pengandapan gambut seimbang akan dihasilkan endapan batubara
tebal. Pergantian transgresi dan regresi mempengaruhi pertumbuhan
flora dan pengendapannya. Hal ini menyebabkan adanya infiltrasi
material dan mineral yang mempengaruhi mutu dari batubara yang
terbantuk.
e.
Umur Geologi
Proses
geologi menentukan berkembangnya evolusi kehidupan berbagai macam
tumbuhan. Dalam masa perkembangan geologi secara tidak langsung
membahas sejaran pengendapan batubara dan metamorfosa organic. Makin
tua umur batuan makin dalam penimbunan yang terjadi, sehingga
terbentuk batubara yang bermutu tinggi. Tetapi pada batubara yang
mempunyai umur geologi lebih tua selalu ada resiko mengalami
deformasi tektonik yang membentuk struktur perlipatan atau patahan
pada lapisan batubara. Disamping itu factor erosi akan merusak semua
bagian dari endapan batubara.
f.
Tumbuhan
Flora
merupakan unsure utama pembentuk batubara. Pertumbuhan dari flora
terakumulasi pada suatu lingkungan dan zona fisografi dengan iklim
dan topografi tertentu. Flora merupakan factor penentu terbentuknya
berbagai tipe batubara. Evolusi dari kehidupan menciptakan kondisi
yang berbeda selama masa sejarah geologi. Mulai dari Paleozoic hingga
Devon pertamakali terbentuk lapisan batubara di daerah lagon yang
dangkal. Periode ini merupakan titik awal dari pertumbuhan flora
secara besar-besaran dalam waktu singkat pada setiap kontinen. Hutan
tumbuh dengan subur selama masa Karbon. Pada masa tersier merupakan
perkembangan yang sangat luas dari berbagai jenis tanaman.
g.
Dekomposisi
Dekomposisi
flora yang merupakan bagian dari transformasi biokimia dari organic
merupakan titik awal untuk seluruh alterasi. Dalam pertumbuhan
gambut, sisa tumbuhan akan mengalami perubahan, baik secara fisik
maupun kimiawi. Setelah tumbuhan mati, proses degradasi biokimia
lebih berperan. Proses pembusukan akan terjadi oleh kerja
mikrobiologi (bakteri anaerob). Kecepatan pertumbuhan gambut
bergantung pada kecepatan perkembangan tumbuhan dan proses
pembusukan. Bila tumbuhan tertutup oleh air dengan cepat, maka akan
terhindar oleh proses pembusukan, tetapi terjadi proses desintegrasi
atau penguraian oleh mikrobiologi. Bila tumbuhan yang telah mati
terlalu lama berada di udara terbuka, maka kecepatan pembusukan
gambut akan berkurang sehingga hanya bagian keras saja tertinggal
yang menyulitkan penguraian oleh mikribiologi.
h.
Sejarah Sesudah Pengendapan
Searah
cekungan batubara secara luas bergantung pada posisi geotektonik yang
mempengaruhi perkembangan batubara dan cekungan batubara. Secara
singkat terjadi proses geokimia dan metamorfosa organic setelah
pengendapan gambut. Di samping itu sejarah geologi endapan batubara
bertanggung jawab terhadap terbentuknya struktur cekungan batubara,
berupa perlipatan, persesaran, intrusi magmatic dan sebagainya.
i.
Struktur Cekungan Batubara
Terbentuknya
batubara pada cekungan, umumnya mengalami deformasi oleh gaya
tektonik yang menghasilkan lapisan batubara dengan bentuk-bentuk
tertentu. Disamping itu adanya erosi yang intensif menyebabkan bantuk
lapisan batubara tidak menerus.
j.
Metamorfosa Organik
Tingkat
kedua dalam pembentukan batubara adalah penimbunan atau pengaburan
oleh sedimen baru. Pada tingkat ini proses degradasi biokimia tidak
berperan lagi tetapi lebih didominasi oleh proses dinamokimia. Proses
ini menyebabkan terjadninya perubahan gambut menjadi batubara dalam
berbagai mutu. Selama proses ini terjadi pengurangan air lembab,
oksigen dan zat terbang serta bertambahnya prosentas karbon pada,
belerang dan kandungan abu. Tekanan dapat disebabkan oleh lapisan
sedimen penutup yang sangat tebal atau karena tektonik. Hal ini
menyebabkan bertambahnya tekanan dan percepatan proses metamorfosa
organic. Proses ini akan dapat mengubah gambut menjadi batubara
sesuai dengan perubahan sifat kimia, fisik, dan optiknya.
Terbentuknya Lapisan Batubara Tebal
Lapisan
batubara tebal merupakan deposit batubara yang mempunyai nilai
ekonomis tinggi. Salam satu syarat yang dapat membentuk lapisan
batubara tebal adalah apabila terdapat suatu cekungan yang oleh
karena adanya beban pengendapan bahan-bahan pembentuk batubara di
atasnya mengakibatkan dasar cekungan tersebut turun secara
perlahan-lahan.
Cekungan
ini umumnya terdapat didaerah rawa-rawa (hutan bahaku) di tepai
pantai. Dasar cekungan yang turun secara perlahan-lahan dengan
pembentukan batubara memungkinkan permukaan air laut akan tetap dan
kondisi rawa stabil. Apabila karena proses geologi dasar cekungan
turun secara cepat, maka air laut akan masuk ke dalam cekungan
sehingga mengubah kondisi rawa menjadi kondisi laut.
Akibatnya
di atas lapisan pembentuk batubara akan terendapkan lapisan sedimen
laut antara lain batugamping. Pada tahap selanjutnya akan terjadi
kembali pengendapan batulempung yang memungkinkan untuk kembali
terbentuk kondisi rawa. Proses selanjutnya akan terkumpul dan
terendapkan bahan-bahan pembentuk batubara (sisa tumbuhan) di atas
lapisan batulempung. Demikian seterusnya sehingga terbentuk lapisan
batubara dengan diselingi oleh lapisan antara yang berupa batugamping
dan batulempung. Tidak jarang dijumpau lapisan batubara sering
terbentuk lapisan antara yang berupa batulempung yang disebut sebagai
clay band atau clay parting.
Bentuk Lapisan Batubara
Bentuk
cekungan, proses sedimentasi, proses geologi selama dan sesudah
proses pembentukan batubara akan menentukan bentuk lapisan batubara.
Mengetahui bentuk lapisan batubara sangat menentukan dalam
menghintung cadangan dan merencanakan cara penambangannya. Beberapa
bentuk lapisan batu baru, yaitu :
a.
Bentuk Horse Back
Bentuk
ini dicirikan oleh perlapisan batubara dan batuan yang menutupnya
melengkung kea rah atas akibat gaya kompresi. Ketebalan kea rah
lateral lapisan batubara kemungkinan sama ataupun menjadi lebih kecil
atau menipis.
b.
Bentuk Pinch
Bentuk
ini dicirikan oleh perlapisan yang menipis dibagian tengah. Pada
umumnya dasar dari lapisan natubara merupakan batuan yang plastis,
misalnya batulempung. Sedang di atas lapisan batubara secara setempat
ditutupi oleh batupasir yang secara lateral merupakan pengisian suatu
alur.
c.
Bentuk Clay Vein
Bentuk
itu terjadi apabila di antara dua bagian deposit batubara terdapat
urat lempung. Bentukan ini terjadi apabila pada satu seri deposit
batubara mengalami patahan, kemudian pada bidang patahan yang
merupakan rekahan terbuka terisi oleh material lempung ataupun pasir.
d.
Bentuk Burried Hill
Bentuk
ini terjadi apabila di daerah di mana batubara semula terbentuk
terdapat suatu kulminasi sehingga lapisan batubara seperti
“terintrusi”.
e.
Bentuk Fault
Bentuk
ini terjadi apabila di daerah di mana deposit batubara mengalami
beberapa seri patahan. Keadaan ini akan mengacaukan di dalam
perhitungan cadangan, akibat adanya perpindahan perlapisan akibat
pergeseran kea rah vertical. Dalam melakukan eksplorasi batubara di
daerah yang banyak gejala patahan harus dilakukan dengan tingkat
ketelitian yang tinggi.
f.
Bentuk Fold
Bentuk
ini terjadi apabila di daerah di mana deposit batubara mengalami
perlipatan. Makin intensif gaya yang bekerja pembentuk perlipatan
akan makin komplek. Dalam melakukan eksplorasi batubara di daerah
tersebut juga terjadi patahan harus dilakukan dengan tingkat
ketilitian yang tinggi.
Klasifikasi Dan Kualitas Batubara
Mutu
setiap batubara akan ditentukan oleh faktor suhu, tekanan, serta lama
waktu pembentukan. Semua faktor tersebut, kemudian dikenal dengan
istilah maturitas organik. Semakin tinggi maturitas organiknya, maka
semakin bagus mutu batubara yang dihasilkan, begitu juga sebaliknya.
Berdasarkan hal tersebut, maka kita dapat mengidentifikasikan
batubara menjadi 2 golongan, yaitu:
1.
Batubara dengan mutu rendah.
Batubara
pada golongan ini memiliki tingkat kelembaban yang tinggi, serta
kandungan karbon dan energi yang rendah. Biasanya batubara pada
golongan ini memiliki tekstur yang lembut, mudah rapuh, serta
berwarna suram seperti tanah. Jenis batubara pada golongan ini
diantaranya lignite (batubara muda) dan sub-bitumen.
2.
Batubara dengan mutu tinggi.
Batubara
pada golongan ini memiliki tingkat kelembaban yang rendah, serta
kandungan karbon dan energi yang tinggi. Biasanya batubara pada
golongan ini memiliki tekstur yang keras, materi kuat, serta berwarna
hitam cemerlang. Jenis batubara pada golongan ini diantaranya bitumen
dan antrasit.
Pembahasan masing-masing jenis batubara dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Lignite, disebut juga batubara muda. Merupakan tingkat terendah dari batubara, berupa batubara yang sangat lunak dan mengandung air 70% dari beratnya. Batubara ini berwarna hitam, sangat rapuh dan seringkali menunjukkan struktur serat kayu. Nilai kalor rendah karena kandungan air yang sangat banyak (30-75 %), kandungan karbon sangat sedikit (60-68&), kandungan abu dan sulfur yang banyak (52.5-62.5). Batubara jenis ini dijual secara eksklusif sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Lignite dijumpai pada kondisi yang masih muda, berkisar Cretaceous sampai Tersier.
2.
Sub-Bituminous:
karakteristiknya berada di antara batubara lignite dan bituminous,
terutama digunakan sebagai bahan bakar untuk PLTU. Sub-bituminous
coal mengandung sedikit carbon dan banyak air, dan oleh karenanya
menjadi sumber panas yang tidak efisien
3. Bituminous: batubara yang tebal, biasanya berwarna hitam mengkilat, terkadang cokelat tua. Bituminous coal mengandung 68 - 86% karbon dari beratnya dengan kandungan abu dan sulfur yang sedikit. Umumnya dipakai untuk PLTU, tapi dalam jumlah besar juga dipakai untuk pemanas dan aplikasi sumber tenaga dalam industri dengan membentuknya menjadi kokas-residu karbon berbentuk padat.
4. Antrasit: peringkat teratas batubara, biasanya dipakai untuk bahan pemanas ruangan di rumah dan perkantoran. Batubara antrasit berbentuk padat (dense), batu-keras dengan warna jet-black berkilauan (luster) metalik dengan struktur kristal dan konkoidal pecah. Mengandung antara 86% - 98% karbon dari beratnya, 9,3% abu, dan 3,6% bahan volatile. Antarasit terbakar lambat, dengan batasan nyala api biru (pale blue flame) dengan sedikit sekali asap. Antrasit terbentuk pada akhir Karbon oleh pergerakan bumi yang menyebabkan pemanasan dan tekanan tinggi yang merubah material berkarbon seperti yang terdapat saat ini.

Batubara
menurut waktu pembentukannya di Indonesia terdapat mulai skala waktu
Tersier sampai Recent. Pembagiannya dapat dijelaskan sebagai berkut:
1.
Batubara paleogen, merupakan batubara yang terbentuk pada cekungan
intranmontain, contohnya yang terdapat di Ombilin, Bayah, Kalimantan
Tenggara serta Sulawesi Selatan.
2.
Batubara neogen, yakni batubara yang terbentuk pada cekungan
foreland, contohnya terdapat di Tanjung Enim, Sumatera Selatan.
3.
Batubara delta, yakni endapan batubara yang terdapat di hampir
seluruh Kalimantan Timur
Brown
Coal vs Hard Coal menurut SNI 1998
1.
Batubara coklat (Brown coal)
Batubara
coklat (Brown coal) adalah jenis batubara yang paling rendah
peringkatnya, bersifat lunak, mudah diremas, mengandung kadar air
yang tinggi (10-70%), terdiri atas batubara coklat muda lunak (soft
brown coal) dan batubara lignitik atau batubara cokelat keras
(lignitik atau hard brown coal) yang memperlihatkan struktur kayu.
Nilai kalorinya < 5700 kal/gr (dry mineral matter free).
2.
Batubara keras (Hard coal)
Batubara
keras (Hard coal) adalah semua jenis batubara yangperingkatnya lebih
tinggi dari brown coal, bersifat lebih keras, tidak mudah diremas,
kompak, mengandung kadar air yang relatif rendah, umumnya struktur
kayunya tidak tampak lagi, relative tahan terhadap kerusakan fisik
pada saat penanganan (coalhandling). Nilai kalorinya > 5700 kal/gr
(dry mineral matter free).
Kualitas
batubara adalah sifat fisika dan kimia dari batubara yang
mempengaruhi potensi kegunaannya. Kualitas batubara ditentukan oleh
maseral dan mineral matter penyusunnya, serta oleh derajat
pembatubaraan. Umumnya, untuk menentukan kualitas batubara dilakukan
analisa kimia pada batubara yang diantaranya berupa analisis
proksimat dan analisis ultimat. Analisis proksimat dilakukan untuk
menentukan jumlah air (moisture), zat terbang (volatile matter),
karbon padat (fixed carbon), dan kadar abu (ash), sedangkan analisis
ultimat dilakukan untuk menentukan kandungan unsur kimia pada
batubara seperti : karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur, unsur
tambahan dan juga unsur jarang.
Kualitas
batubara ini diperlukan untuk menentukan apakah batubara tersebut
menguntungkan untuk ditambang selain dilihat dari besarnya cadangan
batubara di daerah penelitian. Untuk menentukan jenis batubara,
digunakan klasifikasi American Society for Testing and Material
(ASTM, 1981, op cit Wood et al., 1983). Klasifikasi ini dibuat
berdasarkan jumlah karbon padat dan nilai kalori dalam basis dry,
mineral matter free (dmmf). Untuk mengubah basis air dried (adb)
menjadi dry, mineral matter free (dmmf) maka digunakan Parr Formulas
(ASTM, 1981, op cit Wood et al., 1983).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar